Cermin tua retak
Aku melihat bayangan dirimu melalui sebuah cermin tua yang retak,
Sesosok tubuh yang kulihat sedang terluka dalam, hidupnya tidaklah jauh berbeda dengan keadaan cermin yang memantulkan gambaran dirinya, kusam, hancur, dan tak dapat diperbaiki.
Matanya mengeluarkan tangisan darah disatu sisi, dan tawa kebahagian palsu disisi lainnya,
Gambaran tentang masa depan yang dia impikan diwaktu kecil sudahlah hilang tak bersisa, didepan kenyataan yang berdiri dihadapannya sekarang,
Kidung doa yang selalu dia lantunkan bukanlah sebuah harapan lagi baginya, melainkan menjadi sebuah nyanyian keputusasaan yang terlukis dari getar suara hatinya,
Semakin kau melihat jelas bayangan itu, semakin jelas penderitaan yang dia alami, sebuah penderitaan yang datang dari pilihan yang salah akan hidupnya,
Dia berlutut dihadapan tuhan, tapi yang berada didepannya bukanlah tuhan yang sama dengan seperti apa yang dia kira, dia berjalan dalam dekapan setan yang membutakan setiap panca inderanya.
Dia berjalan tak tentu arah, memiliki keyakinan yang tak pernah ada kepastiannya, meraba dalam gelap, bersenandung dalam kepiluan abadi,
Dia selalu berkata, “tuhan ada didekatku, selalu melindungiku, dialah yang memberiku rezeki yang kudapat untuk mengenyangkan rasa laparku disetiap harinya…”
Ya, memang tuhan yang memberikan semua rezeki kepada setiap manusia, baik itu umatnya yang ta’at ataupun kaum yang membangkang, dia tidak pernah pilih kasih dalam membagikan rezeki kepada seluruh manusia, tapi jika harta yang kau cari dijalan tuhanmu, apa itu yang kau dapat sekarang, wahai bayangan yang terpantul dicermin tua retak?
Tidak, yang kau dapat hanya kesukaran yang terus membuka kesukaran yang lainnya dengan bentuk materi,
Apa kau pernah mendengar jeritan hatimu sendiri tentang jalan yang telah kau ambil sekarang??
Tidak, kau mungkin dapat tertawa, tapi jiwamu menangis didalam, wahai bayangan yang terpantul dicermin tua. Aku dapat melihat penderitaanmu dengan jelas melalui matamu yang selalu gelisah,
Aku dapat mendengar suaramu yang berat namun penuh kebimbangan,
Walaupun kau selalu
Berusaha bersikap tenang.
Wahai bayangan dicermin tua yang retak,
Sudalah cukup bagimu untuk melihat dirimu dari cermin tua itu,
Tak ada keindahan yang dapat kau lihat, kini saatnya kau berganti cermin, menata kembali hidupmu yang retak, walaupun tak dapat sesempurna dulu, tapi, tak pernah ada kata terlambat untuk sebuah perubahan.
Tak ada kata terlambat untuk bertobat.
Waktu terus bergerak maju, dan tak ada kesempatan kita untuk terbuai dalam pemikiran yang mendalam, karena waktu tak pernah menunggu kita…